Sedikit tentang ritual teing hang


Manggarai merupakan tanah mbate dise Ema, tanah ledong dise Empo (tanah warisan leluhur). Manggarai dikenal dengan kaya akan adat istiadat yang sama dan bahasa yang kadang berfariasi di setiap daerahnya. Manggarai itu mempunyai ragam upacara adat dan kesenian adat yang tentunya merupakan warisan dari para leluhur. Dalam setiap tahunya ritul-ritual adat tersrebut dijalankansecara terus-menerus yang bertujuan untuk nuk ruku pape sake (mengingat kembali dan melaksanakan kembali ritual-ritual adat yang telah diwariskan dari para nenek moyang yang berlaku secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Salah satu warisan yang ditinggalkan para leluhur dan sampai saat ini masih dilestarikan dan dilaksanakan oleh masyarakat Manggarai adalah ritual teing hang kolang.

            Teing hang merupakan bentuk syukur dan doa kepada Tuhan melalui perantaraan leluhur dalam masyarakat adat Manggarai. Secara harafiah diartikan sebagai tradisi memberi makan kepada leluhur dan orang tua yang telah meninggal dunia. Ritual untuk nenek moyang yang telah meninggal ini biasanya diadakan setiap kali akhir tahun ( bersyukur atas satu tahun yg telah lewat dan menyambut tahun yang baru) ataupun dalam berbagai kesempatan khusus, seperti ketika diadakan acara penti (syukur panen), wagal (pernikahan adat), wuat Wa’I (pembekalan untuk orang yang hendak merantau, kuliah dan kerja).

            Ketika ritual/acara adat ini tidak dilaksanakan (sebagai contoh ketika tahun baru atau ntaung weru), maka akibatnya seringkali terjadi musibah terhadap warga kampong (satu gendang), satu keluarga besar dan bisa saja terjadi hasil panen tidak melimpah dalam satu tahun ke depan, serta terjadi hal-hal yang di luar dugaan manusia seperti adanya anggota keluarga yang sakit berat dan bahkan meninggal secra tiba-tiba. Bisa saja terjadi pula masalah-masalah dalam kehidupan rumah tangga, seprti rusaknya hubungan keharmonisan dalam keluarga.

            Adapun dalam melaksanakan tradisi adat ini, ada beberapa makna yang ingin dicapai oel masyarakat manggarai, yakni penghormatan kepada arwah, membangun hubungan yang dekat, arwah adalah pendoa, dan mengikat tali persaudaraan masyarakat.

Penghormatan pada arwah. Acara ini sebagai bentuk penghormatan pada arwah. Kami masyarakat Manggarai sangat menghormati anggota keluarganya yang telah meninggal dunia karena mereka sudah berjasa bagi anggota keluarga mereka yang ditinggalkan. Selama masa hidupnya, para arwah telah memberikan teladan hidup yang baik dan benar. Mereka telah bekerja keras untuk kemajuan ekonomi keluarga. Terlepas dari fakta bahwa ada banyak masyarakat yang selama hidupnya di dunia justru menyimpang dari nilai-nilai moral yang terkandung dalam budaya dan agama lokal.

 Membangun hubungan yang dekat. Kami mayarakat Manggarai meyakini bahwa mereka yang sudah meninggal masih memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat. Walaupun secara faktanya orang yang meninggal tak dapat dilihat secara kasat mata. Mereka senantiasa hadir dan berada di dekat masyarakat.

Arwah adalah pendoa. Kami orang Manggarai percaya bahwa para arwah adalah pendoa yang baik.  Mereka pasti selalu berdoa bagi keluarganya yang masih hidup. Mereka sudah ahagia dan kini tinggal bersama Allah di Surga. Mereka adalah perantara. Para arwah akan mendengar seruan dan doa masyarakat, kemudian doa tersebut akan disampaikan kepada Allah. Allah sendirilah yang akan mengabulkan segala doa dan permohonan yang disampaikan oleh arwah.

Mengikat tali persaudaran masyarakat. Melalui acara memberikan makan arwah, masyarakat yang tersebar di berbagai daerah yang sudah lama tidak bertemu, kini berkumpul jadi satu. Saling berbagi cerita tentang pahit-manisnya kehidupan di tempat di mana mereka tinggal. Dengan pertemuan seperti ini, mereka akan menimba energi positif yang kemudian dijadikan sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian komputer

The memories